Males romantis takut diblg galau, males perhatian takut diblg kepo, males mendetail takut diblg rempong”
— sujiwotedjo
Entah kau sebut apa aku tak peduli
Rasa, dirimu untuk yg lain seperti rona kemerahan pipi saat seorang wanita tersipu. Terlihat dengan jelas. Untukku kau seharusnya seperti awan. Bangkit dari uap panas air dan menguap entah kemana, tak terlihat. Tapi, kemudian menimbulkan hujan. Entah kenapa melukiskanmu seperti menerjemahkan bahasa mesir kuno dengan transkripsi super panjang. Yang ada hanya keengganan teramat sangat besar. Lalu sudahlah. Buat apa dibicarakan? Aku muak. Sedikit saja aku mau muak denganmu.
Those are what we do in HOLLY-DAY
(Source: naniithran, via xneverletyougox)
Relativitas
ada yang mengingat Rumus ini?
E = m c^2
Saya pikir rumus diatas adalah rumus yang paling sering didengar orang kebanyakan dari pada rumus keliling persegi, atau luas persegi panjang. Rumus tersebut adalah Teori Relativitas Einstein yang menyebutkan jika semua benda akan memiliki kesetaraan massa-energi. (fiuuuh, terdengar berat). Dan bukan hal yang baru jika kita sangat mengenal ilmuwan jenius yang satu ini :![]()
Relativitias eintsein didasarkan dua postulat
a. Postulat pertama : hukum - hukum fisika memiliki bentuk yang sama pada semua kerangka acuan inersia.
b. Postulat kedua : cahaya merambat pada ruang hampa udara dengan cepat rampat c : 3 x 10^8 m/s yang TIDAK BERGANTUNG dari kelajuan sumber cahaya maupun pengamatnya
Postulat ini kemudian yang menghasilkan konsekuensi konsekuensi bahwa semua besaran fisika akan berubah kecuali kecepatan cahaya. kemudian adanya kecepatan relatif, kontraksi panjang dan dilatasi waktu.
Kalau diperhatikan Einstein memberikan ide bahwa sesuatu tidak dapat dikatakan secara mutlak, bahwa ada ke-tergantung-an terhadap apa yang ada, atau kemudian yang biasa disebut sebagai : relativitas
contohnya terhadap teori dilatasi waktu yang di berikan einstein (saya akan coba menjelaskannya)
Teori dilatasi waktu adalah pengembungan waktu terhadap pengamat yang bergerak (di luar pesawat = di Bumi) terhadap pengamat yang diam (berada di pesawat). Jadi waktu yang dibutuhkan (lama waktu yang dibutuhkan) akan berbeda besarnya bergantung kepada posisi pengamat, apakah berada di dalam pesawat atau berada dalam pesawat.
Lihat kan? Einstein menurut saya mencoba memberikan ide bahwa untuk waktu yang memiliki satuan pasti (jam, menit, detik) pun tidak bisa disebut pasti, karena semuanya relatif. Tergantung posisi dan dimana tempat berada.
Kalau mau sotoy *it’s gonna be sotoy post* tidak ada sesuatu yang benar benar terukur dan tidak ada yang mutlak. Tergantung posisi. Misalnya yang paling dekat dengan kehidupan sekitar , seperti berpendapat. Tergantung posisi ada didalam kejadian/peristiwa atau berada diluar peristiwa akan sangat berpengaruh terhadap pendapat yang akan dikemukakan. Yang berada diluar kejadian/peristiwa akan terjadi penggembungan (di-lebay-in). Yang berada di dalam peristiwa akan setengah mati mempertahankan pendapatnya dengan penambahan yang selalu diikuti “ah, lu kan gak ngerasain, jadi mana tau!” yang berada diluar kejadian akan paling sering mengemukakan pendapat dengan berbicara seolah telah mengetahui tiap detail peristiwa dan kemudian berkomentar. Perselisihan akan timbul jika keduanya sama-sama tidak mengerti bahwa satu dengan yang lainnya memiliki posisi yang berbeda untuk memperoleh keterangan yang sebenarnya dan selengkapnya sehingga membatasi kapasitas untuk memberikan pendapat.
Relativitas juga kadang menjadi #commonbullshit yang paling sering didengar. Saking beragamnya pendapat,ke-relatif-an dijadikan kambing hitam.
Jika pada suatu diskusi mengenai Anggaran atau Perencanaan sesuatu , atau hal lain, pendapat yang paling sering didengar adalah “Ya, tergantung sih.. tergantung sama……”
Relativitas kadang menjadi jawaban paling aman untuk mengatakan akan sesuatu atau ketika dimintai pendapat. Mungkin karena semua menyadari bahwa ke-relativitas-an ada dan tidak dapat dipungkiri.
What I actually want to say is bertenggang rasa - lah terhadap ke-relativitas-an.
No one knows what will happen to us on the next seconds, live a life! Berkomentar dan berpendapat-lah sesuai ke-relativitas-an posisi masing-masing. Dan jangan menyalah kan orang yang berpendapat berbeda, apalagi kemudian murka. Tapi, itu semua sesungguhnya itu tergantung sih 
Happy Monday! 
Ingat marissa wanita yg cerdas atau punya bakat,makin terlihat cantik dan menarik ! :D kamu harus bangga :D . Saya mendukung mu! (ง’̀⌣’́)ง”
— seorang teman. Entah kenapa saya jadi merasa percaya diri meningkat. Ya lagi minder to the max gini haus akan pujian jadinya. Menyedihkan kamu, mar
My First Affection
Mungkin ini akan menjadi posting tergalau saya. Cinta pertama saya sampai sekarang.
Afeksi pertama saya di dunia materialistis ini adalah melukis.
Tak pernah mata saya tidak begitu berbinar ketika melihat sebuah gambar hanya gambar (kata orang, menurut saya lebih dari gambar). Bahkan waktu kelas 1 SD saya sudah menetapkan kalo saya mau jadi pelukis. Udah mantep bgt!. Tapi, sewaktu saya bilang ke Ibu saya ingin menjadi pelukis, katanya
“Kamu mau makan apa?”
“Ya jual lukisan, Mama”
“Emang langsung dapet duit banyak?”
Saya saat itu gak tau mau jawab apa. Patah hati yang pertama saya rasakan saat itu. Semakin saya dewasa saya tau, Ibu saya berusaha menghindarkan saya kepada keinginan yang terlalu muluk.
Karena sampai sekarang Beliau-lah yang paling mendukung saya, ketika saya merengek meminta cat acrylic untuk kelas lukis saya, merengek meminta kuas baru untuk lukisan saya.
Mungkin Ibu saya tau kalau pelukis tidak bisa menggantungkan hidupnya lewat idealisme melukisnya. Modriani saja harus melukis bunga untuk melanjutkna hidupknya, padahal bukan gayanya. Tapi, Edvard Munch berhasil menjual lukisan depresinya seharga 1 M. Mungkin Ibu tahu soal Modriani dan Edvard Munch.
Selama setelah perbincangan kelas satu SD itu saya tetap menggambar dan belajar bagaimana caa melukis dari memandangi lukisan-lukisan yang saya temui di Gedung-Gedung, entah itu bank, perpustakaan, sekolah, perkantoran. Semuanya saya pandangi. Dan, ibu saya tampaknya mengerti afeksi saya, jadi ketika saya berhenti agak lama, beliau tidak memarahi saya, malah memberitahu ini itu soal lukisan yang sedang saya lihat. Dengan kalimat yang sama setiap akhir omongannya
“Kamu juga bisa kalo kamu mau”
Kemudian sewaktu SMP saya mendapat guru senirupa seorang Bapak seniman dari Bali, dia juga yang mengatakan kalo saya bisa, dia yang mengajak saya ke Parade Lukisan di Cibubur, membiarkan saya yang baru mengenal cat air Faber Castel langsung berkenalan dengan Cat Minyak. Saya tidak tahu harus melukis apa. Jadilah akhirnya pemandangan laut senja waktu itu, dengan bleberan warna dimana-mana.
Setelah itu, kepercayaan diri saya meningkat. Sketsa yang saya hasilkan makin banyak dibandingkan jaman SD dulu (sudah pada hilang kumpulan sketsanya, mengesalkan) Saya menyadari kalaupun seumur hidup saya melakukan hal ini. Saya tidak akan bosan.
Dan, kemudian satu dua lomba menggambar saya ikuti. Lumayan hasilnya, peningkatan kepercayaan diri setidaknya saya dapatkan. Gambar. Lukisan yang saya pegang itu saya buat waktu SMA SMA. Dimana afeksi ini ternyata harus ada kelanjutannya. Wali kelas saya sewaktu kelas 1 SMA seoarng guru seni rupa , beliau terang-terangan bilang ke saya, untuk masuk kuliah jurusan seni rupa. Saya waktu itu hanya tertawa kecil saja. Yang dipikiran saya waktu it
“lah, emang bagus ya gambar gue?”
Dan ternyata beliau juga bilang langsung ke Ibu saya sewaktu pengambilan raport.
“Bu, Marissa dimasukkan ke seni rupa saja, dia ada bakat” kata Ibu saya menirukan suara Pak Erlan, wali kelas saya.
Entah Ibu saya menanggapi apa. Saya bukan bilang kalo saya ada bakat, karena saya juga tidak mengerti bagaimana orang dapat menilai bakat seseoarang. Psikotest saja tidak berani bilang dengan gamblang tentang bakat.
Saya hanya tertwa kecil dan sekaligus diam saja yang bisa. Yang saya tau menggambar itu menyenangkan. Saya melebihi suka mengenai lukisan, melebihi rasa suka saya terhadap puisi dan kimia (yang terakhir mikir dulu. apa iyaya segitunya sama kimia?hahahha gak sebesar melukis memang tapi tetap suka).
Terus sekarang kuliah jurusan apa?
Yang jelas bukan seni rupa atau sastra. Saya memutuskan untuk mengambil jalan memutar, menjalani hal yang saya suka yang lain (jurusan saya sekarang) kemudian nanti saya akan menemui Lukisan lagi dengan segala persiapan saat saya sedang mengambil jalan memutar ini. Wassily Kadinsky saja menjadi pelukis terkenal setelah meninggalkan gelarnya sebagai sarjana hukum dan baru memulai karirnya di usia 30an. Jadi, bukan berarti saya stop dengan apa yang saya suka karena tidak kuliah di jurusan yang menyangkut hal yang bisa disebut passion.
Ohya, kemarin waktu tahun pertama di Kampus saya ada mata kuliah wajib untuk mengambil kelas seni atau olahraga, yasudah saya ambil kelas melukis. Dan, ternyata seru sekali, walau satu angkatan di jurusan saya cuma saya yang mengambil kelas itu, saya tidak menyesal. menyenangkan sekali. Sewaktu UAS kami diminta melukis model (barang-barang) yang sudah disusun dan kami melukiskannya.Menyenangkan! :D
Happy Sunday!
Painting is a poetry that is seen rather than felt, Poetry is a painting that is felt rather than seen.- Vincent Van Gogh
I spent the whole day working at the laboratory. Sumtimes it felt so fun, sumtimes it felt so tiring. But what I love from it is the time when I’m working or doing titration. I love the colors they’ve made! <3



